Forest Watch Indonesia

Forest Watch Indonesia

Share

Info lengkap tentang FWI bisa dilihat di link: http://fwi.or.id/about/ info ground check situ dilink: https://forest-watch.appspot.com

Forest Watch Indonesia (FWI) merupakan organisasi jaringan pemantau hutan independen, yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka dan dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan. FWI yakin bahwa cita-cita ini hanya akan terwujud apabila ter

Photos from Forest Watch Indonesia's post 11/06/2026

Halo Sobat Hutan!

Di balik proyek karbon yang dipromosikan sebagai solusi iklim, masih ada persoalan mendasar: hak masyarakat adat dan komunitas lokal atas wilayah yang mereka jaga turun-temurun.

FWI menemukan 45 konsesi karbon bertumpang tindih dengan wilayah adat, dengan luas mencapai sekitar 1,9 juta hektare. Angka ini berpotensi lebih besar karena banyak wilayah adat belum mendapat pengakuan hukum formal.

Karena itu, setiap proyek karbon harus menjamin PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan): hak masyarakat untuk mendapat informasi yang jelas dan menentukan setuju atau menolak tanpa tekanan.

Karbon yang adil bukan hanya soal menjaga hutan, tetapi juga menghormati hak mereka yang telah menjaganya sejak lama.

Photos from Forest Watch Indonesia's post 10/06/2026

Halo Sobat Hutan!

Konflik antara harimau dan manusia di Sumatera Barat terus berulang dari tahun ke tahun. Data menunjukkan kasus konflik masih terjadi secara konsisten, menandakan bahwa ini bukan lagi peristiwa insidental, melainkan masalah yang berakar pada perubahan bentang alam dan menyusutnya ruang hidup satwa liar.

Harimau membutuhkan wilayah jelajah yang luas untuk mencari makan, berkembang biak, dan bertahan hidup. Namun pembukaan hutan, ekspansi perkebunan, pertambangan, serta perubahan tutupan lahan membuat habitat semakin terfragmentasi. Di sisi lain, penggunaan jerat di sekitar kawasan hutan juga masih menjadi ancaman bagi satwa liar, termasuk harimau.

Evakuasi dan penyelamatan satwa penting dilakukan saat konflik terjadi. Namun upaya tersebut hanya menangani dampaknya. Konservasi harimau tidak hanya tentang melindungi spesiesnya, tetapi juga memastikan ekosistem yang menjadi tempat hidupnya tetap terjaga.

Photos from Forest Watch Indonesia's post 09/06/2026

Halo Sobat Hutan!

Kalau dokumen dan izin bisa dipalsukan, bagaimana cara memastikan kayu yang beredar benar-benar berasal dari sumber yang legal?

Di sinilah sains berperan. Melalui teknologi forensik kayu, para peneliti dapat mengungkap jenis kayu, daerah asalnya, hingga mencocokkan apakah informasi dalam dokumen sesuai dengan jejak yang tersimpan di dalam kayu itu sendiri.

Kasus kayu merbau dari Papua menunjukkan bahwa rekayasa dokumen masih bisa menjadi celah bagi perdagangan kayu ilegal. Karena itu, pendekatan ilmiah semakin penting untuk mendukung pengawasan dan penegakan hukum kehutanan.

Dokumen bisa dimanipulasi, tetapi jejak yang tersimpan di dalam kayu jauh lebih sulit untuk dipalsukan.

Photos from Forest Watch Indonesia's post 05/06/2026

Halo Sobat Hutan!

Perhutanan sosial lahir untuk membuka akses masyarakat terhadap hutan sekaligus menjaga kelestariannya. Tapi, apakah tujuan itu benar-benar tercapai di lapangan?

Kasus HKm Dayun di Siak memunculkan pertanyaan penting. Jika yang berubah hanya status perizinan, sementara pola pengelolaannya tetap sama, lalu di mana letak pemberdayaan masyarakat yang menjadi tujuan utama perhutanan sosial?

Kasus ini bukan hanya tentang satu kawasan hutan. Ini menjadi pengingat bahwa perhutanan sosial harus terus dikawal agar tetap berpihak pada masyarakat, menjaga hutan, dan mendorong pengelolaan yang berkelanjutan.

Yuk, simak selengkapnya di slide dan tuliskan pendapatmu di kolom komentar! 🌿

Photos from Forest Watch Indonesia's post 04/06/2026

Halo Sobat Hutan!

Banyak proyek karbon datang dengan narasi “menyelamatkan hutan” dan “mengurangi emisi”. Tapi jarang ada yang benar-benar bertanya: siapa yang selama ini menjaga hutan itu sebelum proyek-proyek tersebut hadir?

FWI menemukan fakta yang menarik nih Sobat Hutan. Wilayah adat justru menunjukkan tingkat emisi yang jauh lebih rendah dibanding wilayah konsesi. Di sisi lain, masih banyak masyarakat adat yang bahkan tidak dilibatkan secara utuh dalam proyek karbon yang berjalan di wilayah mereka sendiri.

Data ini membuka pertanyaan penting tentang keadilan iklim, hak masyarakat adat, dan siapa sebenarnya penjaga hutan paling efektif yang kita miliki hari ini.

Kalau menurut Sobat Hutan gimana nih? Yuk, komen di bawah yaa!

Photos from Forest Watch Indonesia's post 26/05/2026

Gimana date cancelled versi kalian?😔

Photos from Forest Watch Indonesia's post 19/05/2026

Halo sobat Hutan!

Angelina Jolie membeli kawasan hutan di Kamboja untuk menjaga biodiversitas, di Indonesia, siapa yang benar-benar menjaga hutan?

Selama ini, masyarakat adat menjadi garda terdepan perlindungan hutan. Mereka menjaga sumber air, pangan, budaya, sekaligus keseimbangan alam.

Namun ancaman seperti deforestasi, tambang, dan ekspansi industri terus terjadi.

Menjaga biodiversitas bukan sekadar slogan hijau.
Artinya menghentikan kerusakan hutan, melindungi habitat satwa hutan, dan menjaga masa depan bumi.

Karena saat hutan hilang, yang hilang bukan hanya pohon—tetapi juga masa depan.

Photos from Forest Watch Indonesia's post 12/05/2026

Halo Sobat Hutan!

511 ribu hektare hutan Indonesia hilang di luar izin konsesi resmi. Deforestasi ini terjadi baik di kawasan hutan maupun Areal Penggunaan Lain (APL), menunjukkan bahwa lemahnya tata kelola, minimnya transparansi, dan pembangunan yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam masih menjadi ancaman besar bagi hutan Indonesia.

Sumatra menjadi wilayah dengan tekanan paling tinggi. Ekspansi sawit, tambang, hingga industri kayu terus mendorong pembukaan hutan, sementara dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar: banjir, longsor, hilangnya ruang hidup, hingga rusaknya habitat satwa seperti Orangutan Tapanuli.

Di Riau, jutaan hektare lahan telah dikuasai industri ekstraktif, sementara ruang yang benar-benar dikembalikan untuk masyarakat masih sangat kecil. Ironisnya, kerusakan terus terjadi bahkan di wilayah yang seharusnya dilindungi.

Laporan sudah dibuat, data sudah menunjukkan kenyataan. Tapi sampai hari ini, hutan tetap dibuka.
Pertanyaannya: sampai kapan deforestasi terus dianggap biasa?

Photos from Forest Watch Indonesia's post 11/05/2026

Perempuan adat bukan sekadar bagian dari komunitas adat. Mereka adalah penjaga hutan, pangan, pengetahuan, dan keberlangsungan hidup komunitasnya. Namun hingga hari ini, hak-hak mereka masih kerap terpinggirkan.

Ketimpangan sosial, sistem patriarkis, dan kebijakan yang belum berpihak membuat perempuan adat berada di posisi paling rentan, terutama saat mempertahankan wilayah hidupnya. Kekerasan dan kriminalisasi pun masih terus terjadi.

Negara tidak cukup hanya mengakui masyarakat adat, tetapi juga wajib melindungi hak kolektif perempuan adat secara nyata. Karena itu, RUU Masyarakat Adat harus memuat perlindungan yang jelas bagi perempuan adat. Pengakuan masyarakat adat tidak akan utuh tanpa pengakuan terhadap perempuan adat di dalamnya.

Photos from Forest Watch Indonesia's post 05/05/2026

Es di Puncak Jaya diprediksi bisa lenyap tahun 2026. Ini bukan sekadar tentang gunung, tapi tanda nyata perubahan bumi yang sedang berlangsung.

Pada 2025 saja, gletser dunia kehilangan sekitar 408 gigaton es—setara dua kali volume Danau Toba. Di Indonesia, satu-satunya gletser tropis kini berada di ambang hilang, dengan penyusutan yang kian cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Data BMKG menunjukkan luas es di Puncak Jaya telah berkurang drastis sejak 2022. Fenomena ini juga sejalan dengan temuan global dari World Glacier Monitoring Service yang dipublikasikan di Nature Reviews Earth & Environment: pencairan es makin cepat akibat kenaikan suhu bumi.

Hilangnya gletser adalah peringatan—tentang naiknya permukaan laut, krisis air, dan ekosistem yang terganggu.

Perubahannya nyata. Dan setiap upaya untuk menahan kenaikan suhu, sekecil apa pun, tetap berarti.

Want your business to be the top-listed Government Service in Bogor?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Sempur Kaler No. 62
Bogor
16129